Gempa dan Bencana dalam Al-Qur’an: Renungan dari Kisah Nabi Musa AS

Reporter Burung Hantu
Ilustrasi.

MEDIAPESAN.COM | Renungan Islam – Bencana alam seperti gempa bumi telah terjadi sejak masa lampau. Dalam perspektif Islam, peristiwa alam tidak hanya dapat dilihat sebagai fenomena yang menimbulkan kerusakan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi manusia untuk mengingat keterbatasan dirinya, memperkuat ketakwaan, dan melakukan introspeksi.

Al-Qur’an mengisahkan sejumlah peristiwa pada masa Nabi Musa AS yang dapat menjadi bahan renungan. Namun, kisah-kisah tersebut perlu dipahami secara hati-hati: Al-Qur’an tidak mengajarkan bahwa setiap gempa atau bencana yang terjadi pada suatu masyarakat pasti merupakan hukuman atas dosa mereka. Bencana dapat menjadi ujian, peringatan, maupun bagian dari ketetapan Allah yang hikmahnya tidak selalu dapat diketahui manusia.

Salah satu kisah yang secara langsung menyebut gempa terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 155.

- Iklan Google -

Gempa yang Menimpa 70 Orang dari Kaum Nabi Musa

Al-Qur’an menyebut bahwa Nabi Musa AS memilih 70 orang dari kaumnya untuk suatu pertemuan yang telah ditentukan Allah. Ketika mereka ditimpa ar-rajfah, yang diterjemahkan sebagai gempa atau guncangan, Nabi Musa AS memanjatkan doa kepada Allah.

Allah berfirman:

“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu…’”

(QS. Al-A’raf: 155).

Jasa Website & Artikel SEO
Jasa Website & Artikel SEO

Menariknya, respons Nabi Musa AS terhadap peristiwa tersebut bukan sekadar ketakutan. Ia memohon ampunan dan rahmat Allah.

Baca Juga:  Dugaan Penganiayaan di Area Parkir RS Ibnu Sina, Makassar: Kasus dalam Penyelidikan

Dalam ayat berikutnya, Nabi Musa AS berdoa agar Allah menetapkan kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat serta menerima pertobatan mereka. Al-Qur’an kemudian menegaskan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu.

Pesan tersebut menjadi penting bagi manusia ketika menghadapi bencana: musibah semestinya mendorong manusia untuk mendekat kepada Allah, bukan merasa paling mengetahui alasan di balik sebuah bencana.

- Iklan Google -

Kisah Firaun: Berulang Kali Mendapat Peringatan

Kisah Nabi Musa AS dan Firaun juga menggambarkan bagaimana berbagai tanda dan musibah datang sebagai peringatan kepada suatu kaum.

Al-Qur’an menyebut banjir atau topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai tanda-tanda yang jelas bagi Firaun dan kaumnya. Namun, mereka tetap menyombongkan diri dan terus melakukan pembangkangan.

Ketika azab atau penderitaan datang, mereka meminta Nabi Musa AS berdoa agar penderitaan tersebut diangkat. Mereka bahkan berjanji akan beriman dan membiarkan Bani Israil pergi.

Namun setelah penderitaan itu berlalu, mereka kembali mengingkari janji.

Di sinilah Al-Qur’an menghadirkan sebuah gambaran tentang kelemahan manusia: seseorang dapat sangat mudah mengingat Allah ketika berada dalam kesulitan, tetapi kembali lalai ketika keadaan telah membaik.

Qarun: Ketika Kekayaan Tidak Mampu Menyelamatkan

Kisah Qarun memberikan pelajaran berbeda.

Qarun dikenal sebagai sosok yang memiliki kekayaan sangat besar. Namun kekayaan tersebut justru membuatnya sombong. Al-Qur’an kemudian menggambarkan bagaimana Allah membenamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.

“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.”

(QS. Al-Qasas: 81).

Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut peristiwa Qarun sebagai gempa bumi. Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai peristiwa pembenaman ke dalam bumi, bukan memastikan bahwa peristiwa tersebut merupakan gempa lokal.

Pesannya tetap kuat: kekayaan, rumah, kedudukan, dan pengaruh manusia tidak memberikan jaminan keselamatan ketika Allah menetapkan sesuatu.

Bahkan orang-orang yang sebelumnya menginginkan kekayaan Qarun kemudian menyadari bahwa rezeki bukan ukuran pasti kemuliaan seseorang.

Baca Juga:  Pemerintah Pilih 5 Daerah sebagai Proyek Integrasi Kebijakan Bencana Banjir

Gunung yang Hancur Ketika Allah Menampakkan Keagungan-Nya

Al-Qur’an juga mengisahkan peristiwa ketika Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah.

Nabi Musa AS meminta agar dapat melihat Allah. Allah menjelaskan bahwa Musa tidak akan sanggup melihat-Nya, kemudian memerintahkan Musa melihat gunung. Jika gunung itu tetap berdiri, barulah Musa dapat melihat-Nya.

Ketika Allah menampakkan keagungan-Nya kepada gunung tersebut, gunung itu hancur luluh dan Nabi Musa AS jatuh pingsan. Setelah sadar, Musa AS berkata:

“Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”

(QS. Al-A’raf: 143).

Kisah ini tidak tepat jika dijelaskan sebagai “tarikan energi” atau fenomena fisika tertentu. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai tajalli, yakni penampakan keagungan Allah kepada gunung, yang membuat gunung tersebut hancur dan Nabi Musa AS jatuh pingsan.

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Kisah-Kisah Itu?

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat direnungkan.

Pertama, manusia memiliki keterbatasan.

Gempa dapat terjadi dalam hitungan detik. Bangunan yang dibangun bertahun-tahun dapat rusak dalam waktu singkat. Kekayaan dan jabatan tidak selalu mampu memberikan perlindungan.

Kedua, musibah dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.

Kisah Nabi Musa AS menunjukkan bagaimana gempa dikaitkan dengan doa, pengakuan atas kelemahan manusia, permohonan ampun, dan permintaan rahmat Allah.

Ketiga, manusia tidak boleh tergesa-gesa menghakimi korban bencana.

Tidak tepat mengatakan bahwa setiap korban gempa pasti sedang dihukum Allah karena dosa tertentu. Dalam ajaran Islam, musibah dapat menjadi ujian, peringatan, penghapus dosa, atau memiliki hikmah lain yang hanya diketahui Allah.

Karena itu, ketika bencana terjadi, sikap yang lebih tepat adalah membantu korban, menyelamatkan kehidupan, memperbanyak doa, melakukan introspeksi, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.

Keempat, jangan menjadi seperti kaum yang hanya mengingat Allah ketika berada dalam kesulitan.

Kisah Firaun dan kaumnya menunjukkan bagaimana manusia dapat berjanji untuk berubah ketika menghadapi penderitaan, tetapi kembali kepada kesombongan setelah kesulitan berlalu.

Doa dan Sikap ketika Menghadapi Bencana

Dalam menghadapi musibah, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, berdoa, bertobat, bersedekah, membantu sesama, dan memohon keselamatan kepada Allah.

Baca Juga:  Tragedi Mutilasi di Serang: Keluarga Korban Desak Vonis Mati untuk Pelaku

Salah satu doa yang diriwayatkan an-Nasa’i adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Allahumma inni a’udhu bi’azhamatika an ughtala min tahti.”

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditimpa kebinasaan dari bawahku.”

Doa tersebut diriwayatkan an-Nasa’i 5529. Dalam riwayat tersebut, doa itu dikaitkan dengan permohonan perlindungan dari khasf, yakni dibenamkan atau tertelan oleh bumi.

Ketika mengalami musibah, umat Islam juga mengenal bacaan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Artinya:

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”

Namun, doa tidak berarti mengabaikan ikhtiar. Saat gempa terjadi, keselamatan manusia tetap menjadi prioritas: berlindung di tempat yang aman, mengikuti informasi resmi, membantu kelompok rentan, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Bencana dan Renungan untuk Kehidupan Modern

Gempa bumi pada akhirnya mengingatkan manusia pada satu hal sederhana: kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Teknologi dapat berkembang. Gedung dapat semakin tinggi. Kekayaan dapat bertambah. Kekuasaan dapat semakin besar. Namun semua itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa manusia tetap makhluk yang lemah.

Karena itu, bencana seharusnya tidak hanya melahirkan rasa takut. Ia juga dapat melahirkan kepedulian.

Orang yang selamat memiliki tanggung jawab untuk menolong yang membutuhkan. Masyarakat memiliki tanggung jawab membangun lingkungan yang lebih aman. Pemerintah memiliki kewajiban memperkuat mitigasi bencana. Dan umat beragama memiliki ruang untuk mengajak masyarakat melakukan refleksi spiritual tanpa menyalahkan korban.

Kisah Nabi Musa AS memberikan pesan yang mendalam: ketika manusia berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada dirinya, kesombongan bukanlah jawaban.

Yang diperlukan adalah kerendahan hati, pertobatan, doa, ikhtiar, dan kepedulian kepada sesama.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga setiap bencana menjadi pengingat bagi kita untuk semakin rendah hati, memperbaiki diri, memperkuat iman, serta membangun kehidupan yang lebih aman dan penuh kepedulian.

Catatan: Artikel ini menggunakan kisah-kisah Al-Qur’an sebagai bahan renungan keagamaan. Penjelasan mengenai sebab ilmiah gempa tetap perlu merujuk pada ilmu kebumian dan informasi resmi dari lembaga kebencanaan.
(*/red)
Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *