Mediapesan | Namlea – Kehadiran sejumlah warga negara asing (WNA) asal China yang meninjau lokasi tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, menuai sorotan. Para WNA tersebut diketahui datang bersama Helena, Direktur PT Wangsuwai Indomining, meski hingga kini aktivitas tambang tersebut belum dapat beroperasi karena masih terkendala persoalan lahan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya tujuh WNA asal China dibawa ke lokasi Gunung Botak pada Sabtu (3/1/2026). Mereka disebut melakukan peninjauan lapangan terkait rencana investasi tambang emas.
Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Buru, Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora), maupun Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon belum memberikan keterangan resmi terkait keberadaan dan pengawasan para WNA tersebut.
Lemahnya sosialisasi mengenai petunjuk teknis (juknis) pelaporan orang asing kepada pemerintah desa turut menjadi perhatian. Kondisi ini dinilai membuat sejumlah kepala desa kebingungan dalam memahami kewajiban pelaporan keberadaan WNA di wilayahnya.
Salah satunya dialami Kepala Desa Widit, Kecamatan Waelata, Hasan Waedurat. Ia mengaku pernah didatangi petugas Imigrasi Ambon pada Kamis (24/4/2025) di kediamannya, terkait keberadaan lima WNA yang sempat tinggal di rumahnya.
“Waktu itu saya tidak paham jalur pelaporan orang asing,” ujar Hasan saat dimintai keterangan.
Dari lima WNA tersebut, satu orang diketahui menggunakan visa kerja pertambangan yang diterbitkan untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), bukan Maluku. Para WNA itu disebut didatangkan oleh PT Wangsuwai Indomining dan didampingi oleh seorang petugas lapangan bernama Candra.
Situasi tersebut diduga bertentangan dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 8 Tahun 2021, khususnya Pasal 28, yang mengatur kesesuaian lokasi kerja tenaga kerja asing dengan izin yang dimiliki.
Pengawasan juga kembali dipertanyakan ketika rombongan WNA yang meninjau Gunung Botak dikawal oleh Muhammad Gazali Wael, yang dikenal dengan sapaan Lopes. Yang bersangkutan diketahui berstatus sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di Puskesmas Teluk Kaiely.
- Iklan Google -
Sumber di lapangan menyebutkan, saat rombongan dihentikan oleh anggota TNI di Pos Gunung Botak dan ditanya asal serta tujuan kedatangan, Gazali menyatakan bahwa mereka berasal dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun tidak menyebutkan nama LSM tersebut.
Adapun identitas WNA yang turun langsung meninjau lokasi tambang emas Gunung Botak antara lain:
- Tan Weizong dan Li Jianfeng, teknisi lapangan PT Harmoni Alam Manise
- Wu Yuesheng, field manager PT Harmoni Alam Manise
- Wu Jing, bagian marketing dan komersial PT Harmoni Alam Manise
- Peng Ke dan Cai Min, staf teknis PT Harmoni Alam Manise
Sejumlah pihak menilai, kejadian ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah dan instansi terkait agar memperkuat pengawasan terhadap orang asing yang masuk ke wilayah Kabupaten Buru. Selain itu, sosialisasi kepada pemerintah desa dinilai perlu ditingkatkan agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari PT Wangsuwai Indomining maupun instansi berwenang terkait status izin, visa, dan kegiatan para WNA tersebut di lokasi tambang Gunung Botak.



