WARNING! Siklon Tropis Wilma Dekati Filipina, Cuaca Indonesia Berpotensi Terdampak

Reporter Burung Hantu

Mediapesan | JakartaAktivitas cuaca di kawasan Pasifik kembali menguat. Invest Siklon 93W yang sebelumnya terpantau sebagai sistem bibit badai, kini resmi berubah menjadi Siklon Tropis Wilma dan bergerak dominan ke arah barat menuju daratan Filipina.

Meski tidak melintasi wilayah Indonesia secara langsung, sistem ini disebut akan memberi efek tidak langsung pada kondisi cuaca di beberapa wilayah Tanah Air.

Berdasarkan analisis pakar mitigasi dan cuaca ekstrem, Halmahera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Sumatera menjadi kawasan yang berpotensi terdampak perubahan cuaca akibat aktivitas Siklon Tropis Wilma.

Dampaknya dapat berupa peningkatan curah hujan, angin kencang, hingga potensi gelombang tinggi.

- Iklan Google -
Mediapesan.com terdaftar di LPSE dan E-Katalog Klik gambar untuk melihat Katalog kami.

Selain itu, proyeksi cuaca berbasis machine learning menunjukkan bahwa pada pertengahan Desember kemungkinan akan terbentuk Invest Siklon lain di Selatan NTT dan Barat Daya Banten.

Jika terbentuk, dua sistem ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, longsor, hingga cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.

Dari pihak akun @infomitigasi mengingatkan bahwa mitigasi harus segera dikebut.

Jasa Pembuatan Website Berita
Jasa Website Jogja

Langkah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat dinilai perlu dilakukan secara masif agar kejadian bencana besar—terutama di kawasan Sumatera—tidak terulang.

“Kami sependapat dengan Prof. @EYulihastin bahwa pemerintah perlu segera membentuk Komite Nasional Cuaca Ekstrem,” tulis @infomitigasi dilansir, Kamis (4/12/2025).

Mereka menyatakan siap mendukung pemerintah melalui penyediaan data, sosialisasi, serta edukasi kepada masyarakat.

Baca Juga:  Sinergi Pemerintah dalam Pemutakhiran Batas Wilayah dan Penamaan Rupabumi 2024

- Iklan Google -

Dorongan ini menggarisbawahi pentingnya konsolidasi dan koordinasi lintas sektoral dalam memperkuat sistem mitigasi bencana di Indonesia yang kini menghadapi risiko cuaca ekstrem lebih tinggi dari biasanya.

(*/red)

Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *