Mediapesan | Makassar – Politeknik Pariwisata Makassar kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan pengembangan keilmuan dan praktik pariwisata berkelanjutan melalui Tourism, Environment, and Community Development (TECD) Forum 2026.
Kegiatan yang digelar pada 14 Februari 2026 ini berlangsung secara luring di D’Anjong Hotel, Makassar, dan juga disiarkan secara daring melalui Zoom. Forum tersebut melibatkan akademisi, peneliti, praktisi pariwisata, mahasiswa hingga mitra institusi dari dalam dan luar negeri.
Ketua panitia TECD Forum 2026, Prof. Ilham Junaid, mengatakan forum ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan para pemangku kepentingan dalam membahas tantangan dan peluang pembangunan pariwisata di tengah dinamika global.
“Forum ini tidak hanya menjadi ajang presentasi hasil penelitian, tetapi juga wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat jejaring kerja sama nasional dan internasional,” ujarnya.
Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Poltekpar Makassar. Diskusi menyoroti pentingnya integrasi aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan dalam setiap kebijakan maupun praktik pengelolaan destinasi.
Mewakili Direktur Poltekpar Makassar, Wakil Direktur Bidang Akademik Muh. Arfin Muh. Salim menyebut TECD Forum 2026 merupakan bagian dari upaya memperkuat peran pendidikan vokasi sebagai motor penggerak pembangunan pariwisata nasional.
Menurutnya, keterkaitan antara riset, proses pembelajaran, dan kebutuhan industri harus terus diperkuat agar lulusan memiliki kompetensi relevan serta mampu menjawab tantangan keberlanjutan.
“Pengembangan keilmuan pariwisata saat ini tidak dapat dilepaskan dari isu perubahan iklim, degradasi lingkungan, transformasi digital, serta pergeseran perilaku wisatawan,” katanya.
Forum ini secara resmi dibuka oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Ir. Martini Mohamad Paham, yang hadir secara daring.
- Iklan Google -
“Masa depan pariwisata Indonesia sangat ditentukan oleh cara kita mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia secara berkelanjutan,” ujar Martini.
Ia menambahkan, kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan industri menjadi kunci menciptakan ekosistem pariwisata yang tangguh dan berdaya saing global. Pendidikan vokasi dinilai memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja yang adaptif terhadap prinsip keberlanjutan dan memiliki kompetensi hijau (green competencies).
Mengusung tema Strengthening Partnership and Collaboration for Economic, Socio-Cultural and Environmental Sustainability, TECD Forum 2026 menghadirkan narasumber dari sejumlah perguruan tinggi dan institusi, seperti Politeknik Pariwisata Bali, Universiti Sultan Zainal Abidin (Malaysia), serta University of New Orleans (Amerika Serikat).
Melalui sesi pleno dan paralel, peserta mempresentasikan dan mendiskusikan berbagai topik, antara lain pengembangan ekowisata bahari berorientasi konservasi, penguatan sumber daya manusia pariwisata berbasis kompetensi hijau, transformasi digital dalam tata kelola destinasi, hingga pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Diskusi yang berlangsung menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak lagi semata berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas pengalaman wisatawan, kesejahteraan masyarakat lokal, serta perlindungan lingkungan.
Melalui TECD Forum 2026, Poltekpar Makassar berharap dapat memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan riset terapan dan inovasi pariwisata berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.
Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi akademik dan peluang kerja sama konkret guna mendukung percepatan pembangunan pariwisata nasional yang inklusif dan berkelanjutan.



