Indonesia dan Maroko Aktifkan Kembali Perundingan Dagang, Bidik Perluasan Investasi dan Pasar

Reporter Burung Hantu
Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bambang Soesatyo menerima kunjungan Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini di Jakarta pada Selasa (22/9/2026). (ft/bs/ho/mpc)

MEDIAPESAN.COM | Jakarta – Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bambang Soesatyo mendorong penguatan kerja sama ekonomi Indonesia dan Maroko untuk meningkatkan perdagangan, investasi, industri, transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja.

Bambang, yang juga Ketua MPR RI ke-15, menyampaikan hal tersebut saat menerima kunjungan Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).

Menurut Bambang, peluang kerja sama ekonomi kedua negara semakin terbuka setelah Indonesia dan Maroko mengaktifkan kembali perundingan Preferential Trade Agreement (PTA), yang ditargetkan selesai secara komprehensif pada 2027.

- Iklan Google -

Perundingan perdagangan kedua negara dimulai pada 2018 namun sempat terhenti. Reaktivasi pada 2026 dinilai dapat membuka akses pasar yang lebih luas dan mengurangi hambatan perdagangan.

“Hubungan Indonesia dan Maroko sudah memiliki fondasi diplomatik yang kuat. Sekarang waktunya hubungan itu ditingkatkan menjadi kemitraan ekonomi strategis,” kata Bambang dalam keterangannya.

Data Kementerian Perdagangan yang dikutip Bambang menunjukkan perdagangan Indonesia-Maroko mencapai sekitar US$235 juta pada 2025. Ekspor Indonesia tercatat sekitar US$154,9 juta, sedangkan impor dari Maroko sekitar US$80,1 juta, sehingga Indonesia membukukan surplus sekitar US$74,8 juta.

Bambang mengatakan nilai tersebut masih kecil dibandingkan potensi ekonomi kedua negara. Produk Indonesia yang dinilai memiliki peluang ekspor antara lain minyak nabati dan produk olahannya, karet, alas kaki, tekstil, mesin dan peralatan listrik, kopi, teh dan rempah-rempah. Indonesia juga membutuhkan sejumlah produk dari Maroko, termasuk pupuk dan aluminium.

Jasa Website & Artikel SEO
Jasa Website & Artikel SEO
Bambang Soesatyo bersama Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini di Jakarta, Selasa (22/9/2026). (ft/bs/ho/mpc)
Bambang Soesatyo bersama Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini di Jakarta, Selasa (22/9/2026). (ft/bs/ho/mpc)

Ia mengatakan posisi geografis Maroko dapat dimanfaatkan perusahaan Indonesia sebagai basis untuk memperluas pasar ke Afrika Utara, Afrika dan kawasan Mediterania. Sebaliknya, Indonesia menawarkan akses ke pasar ASEAN yang berpenduduk lebih dari 680 juta jiwa.

Baca Juga:  Mubes FORMAPERA Digelar di Medan, Tegaskan Komitmen Sosial dan Profesionalisme

Bambang mencontohkan investasi PT Indofood Sukses Makmur melalui PT Salim Wazaran Maghribi di Tiflet, Maroko. Pabrik mi instan tersebut telah beroperasi sejak 2010 dan mempekerjakan sekitar 400 orang. Produknya dipasarkan di Maroko dan sejumlah negara lain, termasuk Qatar, Tunisia, Mauritania, Lebanon dan Sierra Leone.

Menurut Bambang, model investasi tersebut menunjukkan bahwa investasi perusahaan Indonesia di luar negeri dapat menjadi bagian dari strategi memperluas ekspor dan jaringan distribusi.

- Iklan Google -

Kerja sama juga berpeluang dikembangkan pada sektor bernilai tambah, termasuk dirgantara, industri halal, farmasi dan energi baru terbarukan.

Kedua negara dinilai memiliki kepentingan yang saling melengkapi dalam rantai pasok, dengan Indonesia memiliki basis manufaktur dan pasar domestik besar, sementara Maroko memiliki akses geografis ke Afrika Utara dan Mediterania.

Bambang mengatakan kerja sama perlu diarahkan pada produksi bersama, pengolahan bahan baku, riset, transfer teknologi dan pembangunan rantai pasok agar memberikan nilai tambah lebih besar.

Ia juga mendorong keterlibatan langsung KADIN, asosiasi industri, perbankan, perusahaan logistik, eksportir, perusahaan teknologi dan UMKM dalam penguatan hubungan ekonomi kedua negara.

Misi dagang Indonesia ke Maroko pada 2024, menurut Bambang, menghasilkan potensi transaksi sekitar US$16,98 juta atau sekitar Rp276 miliar dari sembilan perusahaan Indonesia yang bergerak di sektor perikanan olahan, makanan, rempah, briket dan batu bara.

“Diplomasi ekonomi harus semakin konkret. Jangan berhenti pada pertemuan pejabat dan penandatanganan nota kesepahaman,” kata Bambang.

Ia menyerukan peningkatan business matching, pendampingan eksportir, akses pembiayaan, informasi pasar, kemudahan sertifikasi, penguatan logistik dan evaluasi berkala terhadap kesepakatan perdagangan kedua negara.

(*/red)
Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *