MEDIAPESAN.COM | Yerusalem – Khatib Masjid Al-Aqsa, Syekh Ekrima Sabri, menuduh pembatasan terhadap pemberitaan dan dokumentasi di kompleks Masjid Al-Aqsa bertujuan mencegah dunia mengetahui apa yang terjadi di dalam situs suci tersebut.
Sabri mengatakan pembatasan informasi membuat tindakan masuknya pemukim Israel ke kompleks Al-Aqsa sulit didokumentasikan dan dapat mengurangi perhatian serta reaksi internasional. Pernyataannya disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Yerusalem selama rangkaian hari raya Yahudi.
Menurut Sabri, aksi masuknya pemukim ke kompleks Al-Aqsa cenderung meningkat selama periode hari raya Yahudi. Ia mengatakan ancaman terhadap status quo di kompleks tersebut kini tidak hanya berkaitan dengan kelompok-kelompok yang menyerukan perubahan aturan di Temple Mount, tetapi juga dengan kebijakan dan tindakan pejabat pemerintah serta anggota parlemen Israel.
Sabri juga menyoroti kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir ke kawasan sekitar kompleks tersebut sebagai tanda dukungan politik terhadap tindakan yang dipersoalkan pihak Palestina.
Ben-Gvir sebelumnya mengunjungi kompleks Al-Aqsa pada Juli 2026 dan memuji pengunjung Yahudi yang disebutnya telah berdoa di lokasi tersebut, meski aturan yang berlaku selama puluhan tahun memperbolehkan umat Yahudi berkunjung tetapi tidak beribadah di sana. Kunjungan itu mendapat kecaman dari Yordania dan pejabat Palestina.
Data yang dikutip dari Pemerintah Provinsi Yerusalem menunjukkan 5.209 warga Israel memasuki kompleks Al-Aqsa pada Agustus, sementara sejumlah ritual keagamaan Yahudi juga dilaporkan berlangsung di dalam dan sekitar kompleks tersebut. Data itu merupakan laporan pihak Palestina dan tidak secara independen memverifikasi seluruh klaim mengenai setiap kunjungan.
Sabri memperingatkan terhadap upaya untuk menciptakan apa yang disebutnya sebagai “realitas baru” di dalam Al-Aqsa. Ia menyerukan peningkatan kehadiran warga Palestina, khususnya warga Yerusalem, di kompleks tersebut untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai pelanggaran oleh pemukim.
Kompleks Al-Aqsa merupakan salah satu situs paling sensitif di Yerusalem. Situs tersebut merupakan tempat suci bagi umat Islam dan dikenal oleh umat Yahudi sebagai Temple Mount.
Pengelolaannya berada di bawah wakaf Islam yang didukung Yordania, sementara pengaturan yang telah berlangsung lama membolehkan umat Yahudi berkunjung tetapi tidak melakukan ibadah di dalam kompleks.

