Ketegangan Selat Hormuz Meningkat, China Dinilai Tak Akan Bantu AS Buka Jalur Minyak

Reporter Burung Hantu
Ilustrasi Selat Hormuz.

Mediapesan.com – Pemerintah China diperkirakan tidak akan membantu Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz, meskipun permintaan tersebut disebut datang dari Presiden Donald Trump.

Sejumlah analis menilai situasi ini justru menguntungkan Beijing di tengah meningkatnya tekanan terhadap Washington akibat konflik dengan Iran.

Perkembangan ini terjadi seiring perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki pekan ketiga.

- Iklan Google -

Konflik tersebut berdampak langsung pada terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global.

Sejumlah sekutu Amerika Serikat dilaporkan enggan meningkatkan keterlibatan militer untuk mengamankan wilayah tersebut.

Kondisi ini memperburuk tekanan terhadap Washington, sekaligus memunculkan kekhawatiran bahwa China sebagai rival geopolitik utama dapat memanfaatkan situasi.

Jasa Pembuatan Website Berita
Jasa Website Jogja

Di sisi lain, penundaan kunjungan Presiden Trump ke Beijing dinilai menjadi sinyal penting dalam dinamika hubungan kedua negara.

Presiden China, Xi Jinping, disebut kemungkinan akan menyambut baik penundaan tersebut, terutama karena Amerika Serikat berpotensi semakin terjebak dalam konflik di Timur Tengah.

Presiden China, Xi Jinping. (ap/ho)
Presiden China, Xi Jinping. (ap/ho)

Analis dari International Crisis Group, Ali Wyne, menilai langkah Washington menunjukkan adanya kesalahan kalkulasi strategis.

- Iklan Google -

“Permintaan Presiden Trump untuk menunda pertemuan puncak yang telah lama ditunggu dengan Presiden Xi Jinping menggarisbawahi betapa signifikan ia meremehkan dampak dari Operasi Epic Fury,” ujar Ali Wyne dalam keterangannya dilansir dari AP.

Menurut dia, pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat yang semula ditujukan untuk menekan China justru memperlihatkan keterbatasan Washington dalam mengelola krisis global secara mandiri.

“Karena tidak mampu membuka kembali Selat Hormuz sendirian, Washington kini membutuhkan pesaing strategis utamanya untuk membantu mengatasi krisis yang diciptakannya sendiri,” katanya.

Situasi ini menambah kompleksitas peta geopolitik global, terutama di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China yang kian menguat di berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga keamanan internasional.

Baca Juga:  WALHI Sulsel Gelar Aksi Depan Kantor PT Vale Indonesia: Tuntut Moratorium dan Hentikan Eksplorasi Nikel di Blok Tanamalia

Pengamat menilai, jika krisis di Selat Hormuz berlarut-larut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga ekonomi global secara keseluruhan, terutama terkait stabilitas pasokan energi.

(*/red)

Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *