MEDIAPESAN.COM | Beijing – China kembali menarik perhatian dunia lewat inovasi teknologi lingkungan.
Perusahaan Jiangnan Environmental Protection Technology atau JNG dikabarkan berhasil mengubah emisi beracun dari pembangkit listrik tenaga batu bara menjadi pupuk murah yang menguntungkan bagi sektor pertanian.
Laporan yang dikutip dari China Electric Power News menyebutkan, teknologi tersebut memanfaatkan emisi karbon dioksida (CO₂) dan sulfur dari cerobong asap PLTU untuk diproses menjadi pupuk berbasis amonium.
Berbeda dengan metode penangkapan karbon konvensional yang umumnya menyimpan CO₂ di bawah tanah, JNG menggunakan amonia untuk menyerap emisi karbon dan sulfur secara langsung dari gas buang pembangkit listrik.
Dari proses itu, perusahaan menghasilkan pupuk amonium sulfat dan amonium bikarbonat yang diklaim kaya sulfur serta karbon organik. Produk tersebut disebut dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi polusi industri.
Teknologi ini telah diuji melalui proyek percontohan di Jiufeng Thermal Power Plant. Dalam proyek tersebut, fasilitas mampu menangkap sekitar 10 ribu ton CO₂ per tahun sambil memproduksi hingga 30 ribu ton pupuk.
Hasil uji lapangan menunjukkan penggunaan pupuk tersebut meningkatkan hasil panen padi hingga 6,2 persen.
JNG juga mengklaim teknologi mereka lebih ekonomis dibanding metode penangkapan karbon tradisional. Jika teknologi carbon capture konvensional dapat menelan biaya hingga US$100 per ton CO₂, penjualan pupuk dari proses daur ulang emisi ini disebut mampu menghasilkan keuntungan lebih dari US$14 untuk setiap ton karbon yang ditangkap.
Saat ini, JNG disebut telah menguasai sekitar 60 persen pasar teknologi desulfurisasi berbasis amonia di China. Perusahaan itu juga tengah menyiapkan proyek besar penangkapan karbon di wilayah Xinjiang dengan target produksi mencapai satu juta ton.
- Iklan Google -
Inovasi tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya China menekan emisi industri sambil mempertahankan produktivitas sektor energi dan pertanian di tengah tuntutan transisi energi global.



