Media Pesan – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) menjalani praktik panjat tebing di Tebing Alam Mandu, Dusun Tontonan, Kabupaten Enrekang, melalui kolaborasi dengan FPTI untuk memperkuat keterampilan teknis dan pemahaman keselamatan olahraga.
Kegiatan yang dibimbing dosen PKO UNIMEN, Maryam, S.Pd., M.Pd., Gr., tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Enrekang. Mahasiswa mengikuti pembelajaran langsung di alam terbuka untuk menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik olahraga panjat tebing.
Maryam mengatakan pembelajaran berbasis lapangan memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa untuk memahami teknik dasar panjat tebing sekaligus mengembangkan keberanian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama dalam tim.
“Pembelajaran di alam terbuka memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik nyata di lapangan,” ujarnya.
Menurut dia, kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya pemahaman prosedur keselamatan dalam olahraga panjat tebing, yang membutuhkan keterampilan teknis, kesiapan fisik, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan FPTI Kabupaten Enrekang menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi mahasiswa melalui pendampingan dan pengalaman praktis bersama pihak yang memiliki keahlian di bidang panjat tebing.

Maryam berharap pembelajaran tersebut dapat membekali mahasiswa dengan keterampilan dan pemahaman keselamatan yang memadai sehingga mereka mampu berkembang menjadi pelatih profesional dan berkontribusi dalam pembinaan atlet berprestasi.
Ketua FPTI Kabupaten Enrekang, Hafsan, S.T., mengatakan kegiatan edukasi olahraga berbasis alam perlu dilaksanakan secara konsisten untuk membentuk generasi muda yang memiliki ketahanan fisik, kemampuan teknis, serta pemahaman mendalam mengenai prosedur keselamatan atau safety procedure.
Ia menilai proses pembelajaran panjat tebing membutuhkan tahapan latihan yang berkelanjutan, mulai dari penguasaan keterampilan dasar hingga kemampuan teknis yang lebih kompleks.
“Mempelajari panjat tebing sama halnya dengan berproses dalam pertumbuhan manusia ketika baru dilahirkan, merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan, berlari, belajar berbicara, dan seterusnya. Ada proses yang harus dilalui,” kata Hafsan.
Ia mendorong mahasiswa untuk terus belajar dan berlatih agar dapat mengembangkan potensi di bidang olahraga panjat tebing.
“Jangan takut belajar dan terus berlatih. In Sha Allah, dari UNIMEN kelak akan lahir atlet panjat tebing yang profesional dan mendunia,” ujarnya.
Tebing Alam Mandu terletak di Dusun Tontonan, Kelurahan Tanete, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Lokasi tersebut dikenal sebagai salah satu destinasi panjat tebing alam di wilayah itu, dengan karakteristik dinding batu yang memiliki kemiringan mendekati 180 derajat.
Pemanfaatan lokasi tersebut sebagai tempat pembelajaran lapangan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal karakteristik medan panjat tebing secara langsung.
Namun, kegiatan di alam terbuka juga menuntut penerapan prosedur keselamatan, penggunaan peralatan yang sesuai, serta pendampingan instruktur yang kompeten.

