MEDIAPESAN.COM | Jakarta – Pemerintah Indonesia mendorong pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF), bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang dapat menggantikan atau dicampurkan dengan avtur konvensional.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan U-Collect Box, teknologi untuk mengumpulkan, memantau dan melacak minyak jelantah dari rumah tangga serta usaha kecil. Minyak yang terkumpul dapat diproses menjadi biodiesel, renewable diesel hingga SAF.
Sekitar 300 unit U-Collect Box telah beroperasi di Indonesia dan Thailand. Teknologi tersebut dilaporkan telah mengumpulkan sekitar 6.000 liter minyak jelantah dan menghasilkan sekitar 5.800 liter biofuel.
Untuk penerbangan, salah satu jalur produksi SAF yang paling matang adalah HEFA (Hydroprocessed Esters and Fatty Acids). Dalam proses ini, minyak nabati, lemak atau minyak jelantah diolah melalui hidrogenasi dan hydroprocessing sehingga menghasilkan hidrokarbon yang sesuai untuk bahan bakar pesawat.
SAF memiliki sifat drop-in, sehingga dapat digunakan pada pesawat dan infrastruktur bandara yang ada. Penggunaannya berpotensi menurunkan emisi karbon berdasarkan siklus hidup hingga sekitar 80% dibandingkan avtur fosil, tergantung bahan baku dan proses produksinya.
Di Indonesia, Pertamina telah memproduksi SAF melalui teknologi HEFA co-processing di Green Refinery Cilacap, dengan salah satu bahan bakunya berupa minyak jelantah. Uji penerbangan komersial juga telah dilakukan, sementara pemerintah menyiapkan penerapan mandat penggunaan SAF mulai 2027.
Namun, pengembangan SAF masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan avtur fosil, keterbatasan bahan baku berkelanjutan serta kapasitas produksi yang masih terbatas.
Pemanfaatan minyak jelantah dinilai dapat menjadi salah satu sumber bahan baku penting untuk mendukung pengembangan SAF sekaligus mengurangi limbah rumah tangga dan emisi sektor penerbangan.

